Turun dari ojek, saya buru-buru masuk ke sebuah bangunan berlantai satu. Saat itu saya telat masuk untuk les Bahasa Prancis karena harus menyelesaikan pekerjaan dulu di kantor.
"Bonsoir (selamat malam)!" sapa saya sambil membuka pintu ruangan les. Le professeur (sang guru), Monsieur Iwan, menjawab dengan mengulangi ucapan saya sambil mempersilakan duduk. Tapi saat itu teman-teman saya sepertinya sedang rajin, hampir semuanya masuk. Saya kebingungan mencari tempat duduk.
"Di sini aja," kata Dwiki, anak baru di kelas saya, sambil mengangkat tasnya dari bangku kosong di sebelahnya. Dalam hati, saya agak deg-degan. Sebab, sejak awal masuk, laki-laki ini memang sudah menarik perhatian saya. Tapi saya berusaha stay calm saat duduk di sebelahnya.
"Bonsoir (selamat malam)!" sapa saya sambil membuka pintu ruangan les. Le professeur (sang guru), Monsieur Iwan, menjawab dengan mengulangi ucapan saya sambil mempersilakan duduk. Tapi saat itu teman-teman saya sepertinya sedang rajin, hampir semuanya masuk. Saya kebingungan mencari tempat duduk.
"Di sini aja," kata Dwiki, anak baru di kelas saya, sambil mengangkat tasnya dari bangku kosong di sebelahnya. Dalam hati, saya agak deg-degan. Sebab, sejak awal masuk, laki-laki ini memang sudah menarik perhatian saya. Tapi saya berusaha stay calm saat duduk di sebelahnya.



