29 May 2011

Tim UI Memenangi Kompetisi Debat

“SETIAP tahun anggota dewan bertambah banyak. Gedung MPR/DPR lama sudah tidak cukup menampung mereka,” kata pria berjaket kuning. Pernyataan tersebut disanggah wanita berjaket biru tua, “Anggaran pembangunan gedung tersebut memakan uang rakyat terlalu banyak! Padahal belum tentu performa anggota dewan akan meningkat,” katanya.

Pria dan wanita tersebut bukan anggota partai politik, melainkan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) dan Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN) yang sedang mengikuti final Kompetisi Debat Bahasa Inggris Antarmahasiswa di Balairung UI, Rabu (25/5). Bersama tim dari perguruan tinggi masing-masing, mereka berhasil menyisihkan peserta dari Universitas Bina Nusantara (Binus), Universitas Bakrie, Universitas Atmajaya, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjajaran (Unpad), dan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar).


26 January 2011

Kisah Kreatif Panitia Pencari Dana

Sekumpulan mahasiswa berjaket almamater duduk manis di sebuah studio televisi. Mereka tepuk tangan, tertawa, dan bertampang serius sesuai aba-aba dari floor director. Kameramen sibuk mengabadikan setiap ekspresi tersebut. Setelah presenter menyatakan acara usai, para mahasiswa bubar. Satu orang menghilang, dan kembali dengan membawa amplop berisi sejumlah uang. Tidak, isi amplop tersebut tidak dibagikan ke setiap mahasiswa yang datang, tapi disimpan sebagai pemasukan kepanitiaan kampus.

11 January 2011

Fakta Unik Tato

 ·         Asal Mula Istilah Tato

Istilah ‘tato’ berasal dari bahasa Tahiti ‘tatau’, yang berarti ‘menandai’. Konon ‘tatau’ adalah kata onomatopoeic, atau kata yang dibentuk berdasarkan bunyi. ’Tat’ merujuk pada ‘ketukan’ instrumen tato ke dalam kulit, sedangkan ‘au’ adalah teriakan orang yang kesakitan saat ditato. Dengan kata lain, tato adalah tanda/desain permanen yang dibuat dengan cara memasukkan pigmen ke dalam lapisan dermis melalui irisan di lapisan kulit paling atas.

13 August 2010

Quotes

"Jika Anda berada di titik nadir, selamat! ... Bola akan terpental ke atas setelah dibanting dengan keras."
- Mario Teguh, Golden Ways

"Bagaimana cara untuk mengatasi rasa malas? Jangan malas! ... Orang seringkali punya jawaban atas pertanyaannya sendiri."
- Mario Teguh, Golden Ways

Dayan: "Seorang pemimpin boleh mengatakan apa saja kepada orang yang dipimpin, kecuali 'tidak tahu', Letnan."
Letnan Amir: "Bagaimana kalau aku benar-benar tidak tahu?"
Dayan: "Apalagi begitu, Letnan. Seorang pemimpin harus bisa meyakinkan bawahannya bahwa ia tahu,"
- Merah Putih, 2009

"Orang kota lawan petani. Jawa lawan Sulawesi. Yang menang siapa? Belanda!"
- Soerono, Merah Putih, 2009.


"Dengarkan. Dengan ridha Allah, tidak ada yang bisa menghentikan kita."
- Kapten, Merah Putih, 2009

"Bertempur bukan hanya dengan perasaan, tapi juga otak. Mundur!"
- Letnan Amir, Merah Putih, 2009

"The best contraceptive is the word no -- repeated frequently."
- Margaret Smith

"Inside every hardened criminal beats the heart of a ten-year-old boy."
- Bart Simpson

Juno: "I think I'm in love with you."
Bleeker: "You mean, as friend?"
Juno: "No, I mean for real. 'Cause you're like the coolest person I've ever met and you don't even have to try."
Bleeker: "I try really hard actually."
- Juno, 2008

"Supergay."
- Evan, Superbad, 2007

"WE CAN BE THAT MISTAKE!"
- Seth, Superbad, 2007

"But I'm not alone. I have a little science with me."
- David Stutler, Sorcerer's Apprentice, 2010

"Time is a sprinter."
- Fitria Rahmadianti, 2010

"When life gives you lemon, make lemonade."
- Anonymous

"In fact, a laughter is ten times more powerful than a scream."
- Sullivan, Monster Inc, 2002

"Nyokap nyuruh gw jadi ibu rumah tangga kalo gw udah nikah. Ya kalo suaminya bisa memenuhi semua kebutuhan tersier gw sih, nggak apa-apa."
- Hesti Wulandari


"True friends are like diamonds, precious and rare. False friends are like leaves, found everywhere."

- Shauna Niequist


"Setan itu seperti kuman. Jika Anda imun, Anda tidak akan terpengaruh. Jika tidak imun, terkena angin sedikit saja bisa flu."
- Quraish Shihab

01 July 2010

"Kesaksian Bapak Saijah" oleh Rendra

Kesaksian Bapak Saijah*
oleh Rendra


Ketika mereka bacok leherku,
dan parang menghunjam ke tubuhku berulang kali,
kemudian mereka rampas kerbauku,
aku agak heran
bahwa tubuhku mengucurkan darah.
Sebetulnya sebelum mereka bunuh
sudah lama aku mati.

Hidup tanpa pilihan
menjadi rakyat sang Adipati
bagaikan hidup tanpa kesadaran,
sebab kesadaran dianggap tantangan kekuasaan.

Hidup tanpa daya
sebab daya ditindih ketakutan.
Setiap hari seperti mati berulang kali.
Setiap saat berharap menjadi semut
agar bisa menjadi tidak kelihatan.
Sekarang setelah mati
baru aku sadari
bahwa ketakutanku membantu penindasan,
dan sikap tidak berdaya
menyuburkan ketidakadilan.

Aku sesali tatanan hidup
yang mengurung rakyat sehingga tak berdaya.
Meski tahu akan dihukum tanpa dosa,
meski merasa akan dibunuh semena-mena
sampai saat badan meregang melepas nyawa,
aku tak pernah mengangkat tangan
untuk menangkis atau melawan.

Pikiran dan batin
tidak berani angkat suara
karena tidak punya kata-kata.

Baru sekarang setelah mati
aku sadar ingin bicara
memberikan kesaksian.

O, gunung dan lembah Tanah Jawa!
Apakah kamu sorga atau kuburan raya?
O, tanah Jawa
bunda yang bunting senantiasa,
ternyata para putramu
tak mampu membelamu.

O, kali yang membawa kesuburan,
akhirnya samodra menampung airmata.
Panen yang berlimpah setiap tahun
bukanlah rejeki petani yang menanamnya.

O, para Adipati tanah Jawa!
Tatanan hidup yang kalian tegakkan
ternyata menjadi tatanan kemandulan.
Tatanan yang tak mampu mencerdaskan bangsa.
Akhirnya kita dijajah Belanda.

Hidup tanpa pilihan
adalah hidup penuh sesalan.
Rasa putus asa
menjadi bara dendam.
Dendam yang tidak berdaya
membusukkan kehidupan.
Apa yang seharusnya diucapkan
tidak menemukan kata-kata.
Apa yang seharusnya dilakukan
tidak mendapatkan dorongannya.

Kesaksianku ini
kesaksian orang mati
yang terlambat diucapkan.
Hendaknya ia menjadi batu nisan
bagi mayatku yang hilang
karena ditendang ke dalam jurang.

*dikutip dari buku Imran Hasibuan dan Sitok Srengenge berjudul "Bredel di Udara", diterbitkan tahun 1996 oleh Penerbit Institut Arus Studi Informasi (ISAI)