21 October 2019

Pengalaman Pertama Kali Mencoba Brazilian Wax di Khiwax and Dazzling Eyes

Ilustrasi Brazilian wax paling sopan yang bisa saya temukan di Google. Sumber dari sini

Disclaimer: tulisan ini hanya bertujuan untuk sharing dan edukasi kepada perempuan. Men are not allowed to read this.


11 August 2019

Moms Me-Time! Tips Ibu Nonton Konser Tanpa Anak

Finally this mother-of-one can have her full me-time watching her idols on stage without her kid around!

Sungkem dulu sama suami yang sudah mengizinkan saya nonton konser Westlife sampai harus terbang dari Sumbawa, plus udah mau jagain Raihan dan bikin saya tenang dengan bilang "aman..." despite the drama. 😙😙

Drama apa? Biasa... Ini bocah beberapa kali ngamuk nyariin emaknya. Raihan memang nempel banget sama saya. Tapi akhirnya bisa dihandle dengan baik sama ayahnya. 👍👍

Alhamdulillah semuanya berjalan dengan cukup lancar. Thanks dulu buat @gustiayumm yang udah berjasa banget beliin dan nukerin tiket, @ifnurhikmah yang udah anterin tiket ke resepsionis hotel, dan @eganandita yang mau gw tempelin sepanjang konser hahaha... 💚💛💜
How Did I Get The Ticket?

Sebelumnya cerita dulu, ya. Jadi, sekitar Februari 2019, teman saya yang sesama fangirl Westlife dari zaman SD, Iif, ngasih info kalau Westlife mau konser di Jakarta Agustus tahun ini. WOW.

Pada dasarnya saya suka beberapa boyband dan penyanyi/musisi, tapi sering kebanyakan pertimbangan kalau mau nonton konser. Ya jarak lah (saya sekarang tinggal di Sumbawa sementara konser kebanyakan di Jakarta, kan), ya bujetlah (tiket konser ditambah pesawat, nginep, dll), anaklah (nempel banget sama saya), cuti suamilah...

Tapi saya sudah janji pada diri sendiri, kalau Westlife datang, saya akan nonton nomatterwhat. Alhamdulillah... Suami ngasih restu dan bahkan suportif dengan mengambil cuti dan mau nemenin anak selama saya nonton konser. Lop yu goceng lah pokoknya <3 div="">

Tiket dijual Maret 2019. Saya, Iif, dan dua teman kuliah dulu, Ayu dan Ega, bikin grup koordinasi di WhatsApp. Pas penjualan tiket online dimulai, kami berjuang mesen tapi gagal mulu karena website down, sold out, dan semacamnya. Alhamdulillah Ayu mau meluangkan waktu mampir ke kantor EOnya buat beli tiket offline. Akhirnya kami sukses memesan tiket kelas Gold!

Sukses dapat tiket konser, saya merencanakan perjalanan sama suami. Akhirnya kami putuskan enggak pulang ke Jakarta pas Idul Fitri, melainkan Agustus aja biar sekalian lama (kebetulan September ada beberapa agenda di Jakarta). Saya pesan tiket pesawat dan hotel sekalian biar enggak keburu kehabisan.

Hari H Konser

Konser tanggal 6 dan 7 Agustus, tapi saya dapat yang tanggal 7. Tanggal 6 sore, kami langsung naik travel ke Mataram setelah suami absen pulang di kantor (jam 5). Di Mataram, kami numpang tidur di penginapan murah dekat pool travel. Besok paginya (tanggal 7) kami naik Gocar ke Bandara Lombok Praya buat flight jam 9.55 naik Citilink ke Halim. Dari Halim, kami naik Gocar ke Pop! Hotel BSD.

Rencana awalnya, setelah check in, kami mau ke AEON Mall untuk makan, nemenin Raihan main, lalu setelah itu saya nonton konser di ICE. Faktanya, suami tidur, setelah itu gantian Raihan tidur sampe magrib. Kami enggak jadi ke AEON. Saya beli makanan di McD sebelah hotel saat Raihan tidur, soalnya enggak boleh bawa makanan ke venue. Suami janjian sama teman lamanya ketemu di Bintaro Exchange malamnya. Jadi, habis magrib kami langsung pisah tujuan.

Saya ketar-ketir menunggu Raihan bangun, soalnya saya janjian sama Ega. Ega baru jalan ke ICE jam 4 dari kantornya di Sudirman. Perkiraan sampe jam 6 kan. Nah jam 6 Raihan masih males-malesan bangunnyaaa

Kenapa enggak cabs pas anak bobo? Menurut suami, Raihan akan lebih anteng kalau saya pamit dulu sama dia. Jadi pas bangun dia lihat Bundanya masih ada. Soalnya setiap dia bangun pasti saya yang pertama dicari. Dasar anak lanang.

Nah setelah suami salat magrib dan Raihan udah lumayan mood buat bangun, suami pesan Gojek untuk ke Stasiun Rawabuntu. Dia mau ngajak Raihan naik kereta ke Bintaro Exchange karena Raihan senang naik kereta. Saya sounding lagi (sounding sudah dimulai sejak lama dan diulang-ulang terus) kalau saya mau kerja (ini alasan yang dia terima), Raihan anteng sama ayah ya, nanti Bunda pulang malam. Trus saya cium Raihan dan Raihan cium tangan, lalu dia naik Gojek sama ayahnya. Setelah itu giliran saya naik Gojek ke ICE.

Alhamdulillah sampai venue kurang lebih barengan sama Ega. Pengambilan nomor kursi lancar. Trus Ega dan Laras (kakak iparnya) mau ke toilet. Saya iseng lihat-lihat holding room.

Air mineral 330 ml dijual 10K. Ada beberapa stand makanan (including pork dan alcoholic drinks), tapi alhamdulillah enggak tertarik karena sudah makan. Toilet di mana-manapun antrenya kayak naik wahana Dufan. Ega dan Laras baru bisa buang hajat setelah antre 40 menit *facepalm*.

Ada beberapa spot foto dengan backdrop Westlife. Ada yang berbayar dan ada yang gratis, dan semuanya antre panjanggg... Apalah kami bertiga mah bisa denger Bang Shane, Mark, Kian, dan Nicky nyanyi live depan kita aja udah bahagia. Jadi kita foto dari samping backdrop aja enggak pake antre. Yang penting ada bukti kita pernah nonton wkwkwk...

Ada stand official merchandise juga yang harganya overpriced (biasalah). Termurah gantungan kunci 200K, termahal kaos 400K. Saya? Beli kaos... tapi yang murahan, dijual abis konser di emperan ICE. 80K saja wkwkwk...

Jam 19:30, saya, Ega, dan Laras masuk ke Concert Hall. Nomor kursi kami T140-142. Iif di row B karena niat datang dari jam 11, sedangkan Ayu di row E. Jadi kami terpisah.

Usaha emang enggak membohongi hasil, ya. Iif dapet best view karena di depan, sedangkan kami bertiga jauh di belakang pakek agak ketutupan pilar segala.

Konser dimulai jam 20:42, 42 minutes late dari janjinya. Enggak ada opening act (ngarepnya Brian tapi enggak mungkin) jadi langsung empat bapak-bapak itu.

Ini kesan saya dari konser semalam:
  1. Dibanding konser terakhirnya di Jakarta (2011), kayaknya ini lebih terkonsep. They did more choreos and more costume changes.
  2. Tapii kenapa saya lebih dapet feelnya pas 2011, ya? Mungkin karena dulu saya di festival, berdiri, bebas jejogetan, lebih dekat panggung. Yang ini seated dan jauh dari panggung. Orang-orang di sekitar saya pada enggak berdiri jadi saya enggak enak menghalangi mereka. Or simply I just aged. *meh*
  3. Saya senang, sih, semua kelas pake kursi. Tapi orang-orang di deretan belakang ini pada kurang asyik, ah. Duduk melulu. Bahkan waktu Shane minta kita buat jump and dance, yang berdiri cuma dikit. Saya gatel pengen goyang tapi takut didemo yang belakang. Soalnya di sebelah Laras ada emak-emak rese yang nendang kursi orang di depannya karena berdiri dan negor orang yang ngerekam pake HP tinggi-tinggi. Hadeh.
  4. The guys aged (ya iyalah udah 20 tahun sejak debut). Kerut di sana-sini tapi vokal sama gerakan masih oke.
  5. Saya wondering, Westlife bakal ngasih fan service dengan ngajak penonton ke panggung, enggak, ya? Soalnya di 2011 seingat saya enggak ada. Eh bener dongg 5 penonton dipilih ke atas panggung (saya mah cukup tau diri aja dpake uduk jauh di belakang enggak bakal ditunjuk). Salah satunya Pevita Pearce, dan dia disorakin pas naik panggung wkwkwk...
  6. Salah satu kenangan yang paling Westlife ingat pas ke Jakarta adalah ribuan fans nungguin di airport dan hotel sampai mereka enggak bisa tidur karena di luar pada teriak "Westlife... Westlife...". Eeaakk fans Indonesia terkenal keganasannya.
  7. Spectrumission yang digagas Westlife Indo (fanbase Westlife di Indonesia) kayaknya enggak jalan di hari kedua, setidaknya di deretan belakang. Orang-orang di sekitar saya enggak mengangkat HP pas lagu Better Man. Tapi pas You Raise Me Up lumayan, walau ada yang pake warna, ada yang pake flashlight.

Set list lagu Westlife di konser semalam:
  1. Hello My Love

26 March 2019

My Breastfeeding Journey

Me and le bebe

First of all, saya harus bersyukur banget dikaruniai ASI yang cukup dan Raihan yang pandai menyusu since day 1.

Saya ingat waktu pertama kali Raihan dibawa ke kamar dan saya melakukan usaha menyusui untuk pertama kali, mulutnya langsung bergerak mencari puting. Suster memuji, "Wah anaknya udah pintar nyusu, tuh. Sekarang ibunya yang harus belajar menyusui yang benar."

I've read how to do proper latching, tapi praktik tak semudah teori. Waktu itu pergerakan saya terbatas habis operasi, tapi saya terus berusaha menempelkan bibirnya di areola saya untuk mencari posisi yang pas sekaligus merangsang produksi ASI.

ASI saya baru keluar di hari ketiga dan Raihan sempat menangis terus di malam kedua. Sepertinya dia lapar, tapi suster bilang bayi baru lahir masih punya cadangan makanan hingga 72 jam. Ini yang membuat saya kuat, tidak keburu kasihan dan memberinya susu formula.

Di hari ketiga, saat pijat laktasi, suster bilang ASI saya banyak. Saya iya-iya saja karena enggak tahu ukuran sedikit dan banyak ASI. Maklum, new mom.

So I started the breastfeeding journey. Di awal-awal menyusui saya malas pumping karena hasil pompa masih sedikit dan masih pakai breastpump manual, padahal harusnya saya mencicil stok ASI untuk saya tinggal kerja nanti. Dan benar saja, saat kerja, beberapa kali saya harus pulang cepat karena stok ASI sudah mau habis. Padahal rumah saya jaraknya dua jam perjalanan dari kantor. Di kantor, saya pakai breastpump elektrik yang ternyata lumayan membantu dibanding manual.

Saya menyusui langsung sekaligus pumping untuk stok selama bekerja, sampai anak umur 11 bulan. Setelah itu saya resign karena ikut suami pindah kerja ke Sumbawa. Wah, lega rasanya, enggak perlu repot cuci botol ASI-sterilkan-pasang breastpump-pompa-simpan ASI-bekukan-dan seterusnya. Buat ibu-ibu e-pumper apalagi yang istiqomah sampai anak umur dua tahun, you guys rawk!

Anyway, bersyukurlah ibu-ibu yang bisa direct breastfeeding. These are the beauties of it:

12 January 2019

Resep Gohu Ikan Tuna, 'Sashimi'-nya Orang Ternate

Look at that color combination!

Sashimi + sambal matah = gohu ikan

Suka sashimi? Saya juga. Apalagi salmon sashimi. Duh, irisan daging ikan mentah ini gurih dan lembut, enak banget di mulut. Kalau lagi makan di restoran sushi, salmon sashimi sering saya pesan juga (kalau lagi enggak mikirin bujet makan hahaha).

Suatu hari, saya dengar kalau Indonesia juga punya sashimi versi sendiri. Namanya gohu ikan, asalnya dari Ternate. Ini seperti sashimi tuna dicampur sambal matah. Jadi, fillet tuna dipotong dadu, diberi topping bawang merah, cabai, kacang, kemangi, lalu disiram minyak panas. Sashimi dan sambal matah, dua-duanya makanan kesukaan saya!

Meski mentah, tunanya aman dikonsumsi, kok. Sebab, daging tuna dicuci dengan air matang, dibaluri air jeruk dan garam untuk mematikan bakteri, plus disiram minyak panas. Melumuri ikan dengan air jeruk dan garam juga berfungsi menghilangkan amis dan membuat rasa ikan lebih enak.

Beuh... Segar, deh, rasanya. Daging tunanya terasa lembut sedikit kenyal. Ada rasa agak asam dari air jeruk, wangi dari bawang merah dan kemangi, pedas dari cabai, serta renyah dari kacang tanah (my favorite!).

Bikinnya juga relatif mudah. Saya biasanya mempraktikkan resep dari sini, tapi takarannya suka-suka dan bahannya diganti dengan yang ada di rumah.

Ini resep dengan bahan aslinya (takarannya terserah Anda, ya):