02 October 2021

Akhirnya Mutasi! Pindah Ke Mana Nih?

Mengutip Bu Eti, teman saya di Sumbawa, corona aja bermutasi terus. Mutasi kerjanya kapan?

Tulisan ini sudah setahun disimpan di draft. Sekarang akhirnya bisa di-publish juga. Yeay!

Cerita saya di Sumbawa saya abadikan di buku ini. Yang mau beli silakan japri *numpang promo*

Sudah 4 tahun 3 bulan suami tinggal di Sumbawa untuk bekerja. Saya dan Si Kecil sendiri baru hampir tiga tahun di sana karena kami menyusul suami enam bulan setelah dia pindah.

Kenapa enggak langsung ikut? Karena saya dulu masih kerja, saya butuh waktu untuk resign. Anak juga masih bayi. Selain itu, dengan suami pindah duluan, dia bisa mengenal lingkungan sekitar dulu dan menyiapkan tempat tinggal yang nyaman untuk kami. Because I was about to face a major change: dari ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, dari kota besar ke kota kecil, plus hidup mandiri jauh dari keluarga dan teman-teman.

Baca sampai habis, ya, untuk tahu akhir cerita mutasi ini!

22 March 2021

Dari Mager Jadi Workout-Lover

Monmaap enggak ada foto before-after saya karena: 1. Jarang foto, 2. Enggak bisa foto pake baju ketat atau terbuka untuk menunjukkan otot (tsahh)


Tubuh saya sejak dulu agak mudah gemuk dan kurus. Pernah di titik terendah (52 kg dengan tinggi badan 157 cm) saat anak masih menyusu dan digendong ke mana-mana. Tapi, selesai menyapih, berat badan saya cenderung naik. Puncaknya adalah di Lebaran tahun lalu, waktu saya makan kue kering enggak terkontrol. Sejak itu, saya merasa gendut.

Berat badan yang sempat turun sampai titik terendah dalam sejarah saya dewasa (52 kg), kembali ke angka 65 kg. Saya mulai panik ketika angka timbangan memecahkan rekor, 66 kg, 67, lalu hampir menyentuh angka 68.

Saya yang tidak suka olahraga karena malas berkeringat memilih cara instan, yaitu detoks dengan minuman herbal. Selama tiga hari, saya hanya minum minuman tersebut tiga kali sehari dan air putih. Saya yang doyan makan kadang tak tahan, lalu cheating sedikit. Alhamdulillah tetap turun 2 kg di akhir detoks.

Tapi, hobi makan ditambah kurang bergerak membuat berat badan saya kembali naik. Saat mengaca sehabis mandi, saya geli dengan bentuk tubuh saya yang tidak karuan. Bahkan, sempat payudara saya terasa sakit. Saya takut ini ASI yang tidak keluar lalu berubah menjadi tumor, keturunan dari mama. Ternyata, penyebabnya adalah bra yang kesempitan! Saya juga mulai merasakan double chin. Wah, ini sudah tidak bisa dibiarkan!

04 March 2021

Resep Cimol Anti Meledak ala Abang-abang, Dijamin Kopong dan Sukses!



Terharu sekali nyobain resep cimol homemade ini langsung sukses *sobs*

Jajanan ala anak SD memang ngangenin, ya, walau higienitasnya seringkali enggak jelas. Cimol contohnya. Jajanan asal Bandung yang murah meriah dan berbahan aci (tapioka a.k.a. tepung kanji) ini asyik banget dimakan hangat-hangat pakai tusukan sate. Bumbu taburnya itu, lho, asupan micin untuk otak. Kopong dan kenyal-kenyal enyoyy.

Cimol dan cilok sering tertukar-tukar. Sama-sama bulat, berbahan aci, dan dari Bandung, sih. Kalau saya, biar gampang, ingatnya cimol itu kering, cilok itu basah. Maksudnya, cimol itu digoreng, kopong, kenyal, dan bertabur bumbu bubuk. Kalau cilok biasanya direbus atau dikukus, enggak kopong, lembut, dan disajikan dengan saus kacang.

Memang beli cimol lebih praktis daripada harus capek-capek bikin. Tapi, minyak gorengnya bisa jadi dipakai berulang-ulang, lho. Bumbu taburnyapun enggak jelas bahannya, bisa jadi banyak MSG dan pewarna buatan.

Untuk anak-anak di rumah, lebih aman bikin sendiri. Bahannya mudah didapat dan cara bikinnya gampang, kok. Perlu kesabaran aja pas bulet-buletinnya. Tapi bisa jadi aktivitas sama Si Kecil, nih. Jadi kayak plastisin alias play dough gitu.

Takut cimol meledak waktu digoreng? Tenang... Saya udah dua kali mencoba resep ini dan selalu berhasil tanpa meledak. Ngeri juga kalau dapur jadi medan perang penuh letusan cimol!

Cuss bikin!