07 June 2015

Travel: Bangkok Day 3 (Madame Tussauds and MBK Center)

Hari ini jadwalnya ke Madame Tussauds, lalu ke MBK Center. Yuhuuu!

Dari hotel, sekitar pukul 09:00, kami ke stasiun MRT Sutthisan dan naik sampai stasiun MRT Sukhumvit. Wew, berhubung hari kerja, MRT-nya penuh orang-orang yang mau beraktivitas. Suasananya mirip-mirip Commuter Line saat weekdays, lah, kira-kira. Tapi, orang-orangnya terlihat lebih tertib karena antre berdiri satu per satu sesuai garis. Bagian tengah dikosongkan untuk memudahkan penumpang keluar. Saat masuk ke MRT, penumpangnya juga maju satu per satu, enggak pake selak-menyelak.

Dari Sukhumvit, kami pindah ke BTS Asok lewat jalur dalam yang tersedia. Beda BTS dengan MRT, rel BTS berada di jalur layang khusus, sedangkan jalur MRT di bawah tanah. Sistem pembelian tiket BTS dan MRT juga sedikit berbeda.

Kalau di MRT loketnya berfungsi untuk membeli tiket, di BTS loket hanya berfungsi untuk menukarkan uang menjadi koin. Ya, Anda harus membeli tiket di mesin yang tersedia, dan mesin tersebut hanya menerima uang koin (bukan uang kertas).

Awalnya saya agak bingung menggunakannya, namun dengan bantuan petugas, saya jadi paham. Di peta yang terdapat di samping mesin tiket, perhatikan stasiun tujuan Anda dan angka di bawahnya. Stasiun Siam yang jadi tujuan saya memiliki angka 31 di bawahnya. Jadi, saya menekan tombol '31', memasukkan koin tepat 31 baht, lalu kartu kertas akan keluar dari mesin. Jangan lupa memperhatikan di stasiun BTS mana Anda sedang berada (warna kuning), lalu lihat nama stasiun ujung setelah stasiun tujuan Anda.

Karena stasiun ujung tujuan saya bernama 'Mo Chit', saya naik ke peron yang bertuliskan Mo Chit. Setelah naik, saya perhatikan, bagian dalam BTS hampir persis MRT.

Sampai di Stasiun Siam, karena tidak ada tulisan 'Siam Discovery' (mal tempat Madame Tussauds berada), saya bertanya pada petugas. Ternyata, saya harus ke Exit 6 yang dekat mal Siam Paragon. Dari situ, saya menyeberang ke mal Siam Center dan masuk ke dalamnya karena Siam Discovery ada di balik pusat perbelanjaan menengah ke atas ini. Tak perlu khawatir tersasar, karena petunjuk 'Siam Discovery' dan 'Madame Tussauds' cukup jelas di dalam mal ini.

Setelah sampai ujung mal, turun eskalator, keluarlah lewat pintu di sebelah kiri. Dibatasi taman duduk serta patung Mr. P (literally a robot figure with a small penis-like thing down there), Anda bisa melihat media promosi Madame Tussauds. Masuk saja ke pintu mal Siam Discovery, Anda akan langsung menemukan loket penjualan tiket Madame Tussauds lengkap dengan satu figur lilin Nicole Kidman. Karena saya sudah beli tiket online (lebih murah, apa lagi kalau datang sebelum pukul 14:00), saya langsung menuju lift khusus di sebelahnya. Lift ini hanya menuju lantai 5 dan 6, tempat Madame Tussauds berada.

Sampai di lantai enam, setelah melewati lorong, saya tiba di semacam kasir Madame Tussauds. Di sini saya menunjukkan print bukti pemesanan tiket online. Si kasir meminta saya menunjukkan paspor yang digunakan untuk memesan tiket tersebut. Setelah itu, saya diberi receipt diiringi ucapan "Terima kasih..." oleh sang kasir (nice!).

Saya masuk ke lorong yang ditunjukkan. Setelah menunjukkan receipt dan dipersilakan masuk, sayapun langsung disambut patung lilin Soekarno dengan tulisan 'Founding Father of Indonesia' yang tampak jelas. Sepengamatan saya, tidak ada patung lain yang diberi keterangan sejelas ini. Double nice!

Patung tokoh Thailand dan dunia terbagi dalam beberapa kategori, seperti pemimpin dunia, pesta selebriti Hollywood, atlet, dan sebagainya. Mirip banget, sih, memang, sampai bulu ketiak nama Yao Ming (salah satu pemain basket tertinggi di NBA) tak ketinggalan ditampilkan. By the way, di sini saya banyak bertemu orang Indonesia. Mungkin, karena itu sang kasir mengucapkan 'terima kasih' dan patung Pak Karno dipajang di sini.

Di patung Barack dan Michelle Obama yang ber-setting meja kerja Obama di White House, ada fotografer khusus. Saat saya tanya berapa biaya fotonya, katanya gratis. Ya sudah, saya ikutan antre saja. Saya titip difotokan dengan kamera pribadi juga kepada sang fotografer. Usai berfoto, ia memberikan saya dua karcis untuk mengambil hasil foto di dekat pintu keluar.

Di sebelah Obama ada patung lilin Ratu Elizabeth II yang juga diantre karena terdapat kursi plus aksesori mahkota dan mantel bulu yang bisa dipinjam untuk berfoto. Duh, untuk kalian yang mau berfoto di sini, kalau sudah tahu ada orang yang menunggu giliran foto, please do it swiftly. Saya sempat jengkel melihat tiga ibu-ibu Indonesia rempong yang masing-masing bisa berfoto lebih dari dua kali dan ribet sendiri (mahkotanya jatuh berkali-kali lah, mantel kurang rapi lah, foto diulang karena hasilnya kurang oke lah). Begitu pula saat di Obama, sekeluarga orang India (tiga orang) berfoto sendiri-sendiri, lengkap, atau hanya berdua dengan berbagai pose berbeda, padahal antrean panjang. Plis, jangan seperti itu ya, dan tolong antre!

Madame Tussauds dibuat seperti lorong luas dengan sekitar enam atau lebih tokoh per ruangan. Masing-masing dilengkapi informasi mengenai tokoh bersangkutan. Bahkan, di dekat patung beberapa tokoh terdapat permainan interaktif, seperti game tenis dekat figur Serena Williams dan ruang karaoke (yang rusak) dekat Britney Spears.

Oprah yang diam saja saat saya ajak mengobrol

Setelah melewati ruangan pesta selebriti Hollywood, Anda diajak naik ke atas untuk mengetahui seperti apa proses pembuatan patung lilin di Madame Tussauds. Kemudian, Anda akan menemukan tempat mengambil hasil foto. Wah, ternyata hanya jasa fotonya yang gratis, mencetaknya dikenakan biaya 200-500 baht (Rp 80.000-200.000) per lembar! Akhirnya saya tak jadi mengambil foto tadi. Untunglah saya sudah menitipkan kamera pribadi. Setelah itu, ada toko suvenir Madame Tussauds. Overall, meski hanya berfoto-foto dan tak di semua figur, saya cukup puas ke sini.

Tujuan saya berikutnya adalah Mahboonkrong (MBK) Center, semacam ITC Mangga Dua, yang ternyata bisa dicapai dengan berjalan kaki dari Siam Discovery. Karena letaknya di seberang simpang jalan, kami harus menyeberang lewat jembatan penyeberangan.

Meski kemudi mobil-mobil Thailand ada di sebelah kanan seperti di Indonesia, tampaknya orang sana terbiasa berjalan atau menyetir di sebelah kanan. Jadi, kalau ingin mendahului, lewatlah dari sebelah kiri.

Jembatan penyeberangannya asyik, menurut saya. Jalannya lebar, beratap, dan bercabang ke mana-mana. Bahkan, ada yang langsung menuju lantai atas MBK.

Berhubung sudah jam makan siang ditambah perut lapar dan lelah karena berjalan kaki lumayan lama, kami langsung menuju restoran. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari internet, di sini ada restoran halal bernama Yana Restaurant di lantai 5. Setelah bertanya, akhirnya kami sampai juga. Letaknya di seberang The Fifth Food Avenue, food court makanan internasional.

Restoran ini cukup besar dan bergaya restoran casual dining keluarga. Ada macam-macam jenis lauk a la Thailand yang bisa disantap bersama. Range harga makanannya 20-499 baht (Rp 8.000-199.600), sedangkan minumannya 10-60 baht (Rp 4.000-24.000). Untuk nasi gorengnya, Anda bisa memilih daging ayam, daging sapi, bola daging, atau udang dengan harga yang tentunya berbeda. Saya memesan Fried Rice with Green Curry Paste dengan daging ayam. Rasanya seperti ada mint dan semacam daun jeruk dicampurkan ke dalamnya.

Fried Rice with Green Curry Paste

Punya ibu saya Fried Rice with Basil Leaves dengan pilihan daging ayam juga. Harga makanan saya dan ibu sama, 129 baht (Rp 51.600). Rasanya asin. Saus yang tersaji dengan potongan cabai juga asin. Namun, potongan daging ayamnya besar-besar dan lembut. Nasinya juga pulen dan basah bumbu menggoda. Di sini, harganya sudah termasuk pajak.

Fried Rice with Basil Leaves

Saat melihat food court depan, ternyata ada makanan Indonesia di kios 'Jimbaran, Bali' serta beberapa stan makanan halal.

Kenyang makan, saya menuju musala di lantai 6. Kalau mau tanya satpam, sebut saja 'hong lamaat?', maka ia akan menunjukkan arah ke musala. Logo musala di MBK Center seperti ini:

Musala alias prayer room alias hong lamaat

Wah, walaupun kecil (maksimal muat delapan orang di tempat wanita), menurut saya musala ini sudah memadai, terutama untuk standar negara nonmuslim. Tempat wudunya di dalam sehingga perempuan tidak perlu takut terlihat auratnya, musalanya bersih, nyaman, dan berpendingin ruangan, terdapat cukup mukena dan Alquran, memiliki arah kiblat yang jelas, pembatas antara pria dan wanitanya tak cuma sekadar tirai, serta ada rak sepatu di luar. Tampaknya manajemen mal sudah berkonsultasi pada lembaga muslim setempat sebelum membangun tempat ibadah ini. *dua jempol*

Musala tampak luar. Tempat wanita di sebelah kiri dan tempat pria di sebelah kanan.

Musala wanita tampak dalam

Gara-gara ke musala, saya jadi tahu bahwa lantai enam adalah pusat suvenir. Kios-kios kecil berjualan gantungan kunci, tas, sampai aneka pajangan khas Thailand. Seperti di Chatuchak, harganya juga bisa ditawar dan penjualnya paham bertransaksi dalam Bahasa Inggris. Namun, sedikit berbeda dengan di Chatuchak, lebih baik Anda berkeliling ke beberapa kios sebelum membeli barang. Sebab, harga di satu kios bisa berbeda jauh dengan di kios lain.

Pengelola MBK Center sepertinya paham memanjakan turis, sehingga tak heran pusat perbelanjaan ini ramai dikunjungi pelancong dari luar negeri. Selain menyediakan musala, MBK juga memberikan Thai tea gratis di food court dengan menunjukkan paspor. Mal ini juga menyediakan tourist card yang memberikan diskon sampai 50% di beberapa toko, khusus untuk wisatawan asing. Kartu ini bisa diperoleh di pusat informasi. Saya sendiri tidak sempat merasakan fasilitas-fasilitas tersebut, hanya membacanya dari brosur direktori yang bisa diambil gratis di dekat eskalator.

Pulang dari MBK Center, karena rute angkutan umum menuju hotel saya tampak ribet, ditambah kaki yang sudah pegal dan belanjaan yang agak merepotkan, saya iseng menanyakan tarif tuk-tuk, moda transportasi khas Bangkok yang seperti bajaj namun lebih keren. Lagi pula, rasanya tak afdol jadi turis di Bangkok tanpa mencoba tuk-tuk.

Supir-supir tuk-tuk ramai menunggu di depan mal, menawarkan jasa angkutnya kepada para pengunjung yang keluar mal. Saya menghampiri salah seorang supir dan menyodorkan kartu nama hotel saya. Setelah memelajari alamat dan rutenya, si supir langsung mengajak saya ke kendaraannya tapi saya menolak.

"How much?" kata saya. Tahu apa jawabannya? "800 baht (Rp 320.000)." GILA! Di Jakarta yang biaya hidupnya tak beda jauh dengan di Bangkok, biaya segitu rasanya seperti naik taksi dari Jakarta Utara ke Bogor. Padahal, hotel saya ada di tengah kota Bangkok.

"It's far," jawab si supir setelah saya ternganga sambil mengatakan "Wow, so expensive." Diapun bertanya saya mau bayar berapa. Saya bilang "I thought it would be 200 baht," sambil meminta kembali kartu nama hotel. Ia menahan dan menurunkan harga sedikit, tapi saya tetap menolak. Ia bertanya saya dari mana, saya jawab dari Indonesia, dan dia akhirnya melepas kartu nama hotel saya dengan berat hati.

Saya menemui mama, mengambil plastik-plastik belanjaan, dan mengajaknya naik BTS saja sambil menjelaskan alasannya. Si supir tuk-tuk menghampiri lagi saat kami berjalan menuju tangga BTS dan menawarkan 200 baht dengan taksi. Keburu BT, saya menidakacuhkan tawarannya.

Dari MBK, saya ke stasiun BTS National Stadium. Setelah sempat kebingungan, saya belakangan tahu bahwa stasiun ini adalah stasiun ujung. Penumpangnya ramai sekali di peron, mungkin BTS-nya juga sedang bermasalah. Kami nekat masuk saja sambil mempelajari rute yang terpampang di atas pintu BTS dan di peta yang kami pegang.

Saat transit kami juga sempat kebingungan. Saya pribadi lebih suka naik MRT karena rutenya sederhana, tidak bercabang banyak seperti BTS. Tapi, intinya, jangan malu bertanya daripada sesat di jalan. 

Akhirnya kami sampai juga di hotel. Tepar!

See you at day four!

*asumsi 1 baht = Rp 400

---

Artikel terkait:

2 comments:

  1. _Soeryo Cafe_ yang beralamatkan di jl warung buncit raya no 98, jakarta selatan juga menawarkan "FREE MEAL" buat yang sedang berulang tahun.
    Info bisa lihat di www.soeryo-cafe.com atau follow instagramnya @soeryo_cafe

    ReplyDelete

Pendapat Anda?