02 October 2021

Akhirnya Mutasi! Pindah Ke Mana Nih?

Mengutip Bu Eti, teman saya di Sumbawa, corona aja bermutasi terus. Mutasi kerjanya kapan?

Tulisan ini sudah setahun disimpan di draft. Sekarang akhirnya bisa di-publish juga. Yeay!

Cerita saya di Sumbawa saya abadikan di buku ini. Yang mau beli silakan japri *numpang promo*

Sudah 4 tahun 3 bulan suami tinggal di Sumbawa untuk bekerja. Saya dan Si Kecil sendiri baru hampir tiga tahun di sana karena kami menyusul suami enam bulan setelah dia pindah.

Kenapa enggak langsung ikut? Karena saya dulu masih kerja, saya butuh waktu untuk resign. Anak juga masih bayi. Selain itu, dengan suami pindah duluan, dia bisa mengenal lingkungan sekitar dulu dan menyiapkan tempat tinggal yang nyaman untuk kami. Because I was about to face a major change: dari ibu bekerja menjadi ibu rumah tangga, dari kota besar ke kota kecil, plus hidup mandiri jauh dari keluarga dan teman-teman.

Baca sampai habis, ya, untuk tahu akhir cerita mutasi ini!

What's It Like to Be a Housewife in a Small Town?

To be honest, first months was tough. Things I found the most challenging adalah saya harus memasak dan anak yang sangat dependent terhadap saya karena sedang belajar berjalan dan masih menyusu.

Sebelum menikah, urusan masak setiap hari di-handle Mama. Memang itu hobinya, dan sepertinya Beliau lebih suka bekerja sendiri. Saya biasanya cuma disuruh prepare bahan-bahan aja, sisanya mungkin dia kurang memercayai saya di dapur. Hahaha... Nah, dulu saya lebih suka baking karena doyan ngemil manis.

Makanya, saat "dipaksa" harus memikirkan masak apa setiap hari, untuk makan tiga kali sehari sekeluarga, belum lagi harus menyusun daftar belanjaan bahan-bahannya untuk dibeli di pasar, saya stres. Sungguh, persiapan memasak itu lebih lama dibanding proses memasaknya, apalagi makannya. Usaha berjam-jam dari membeli bahan, menyiapkan dan memasak, ludes dalam waktu beberapa menit saja. Lalu, saya harus merencanakan lagi semuanya untuk waktu makan berikutnya. Siklus ini sungguh berat bagi saya yang pemula dan tak terbiasa.

Ditambah lagi anak saya waktu itu baru berusia 11 bulan. Jalannya masih goyang-goyang tapi maunya mengeksplor semua hal dan tempat. Of course enggak bisa saya lepas sendiri karena khawatir jatuh atau terkena bahaya lainnya. Belum lagi sedikit-sedikit menyusu. I spent almost my 24/7 with him with that routine, sementara di kepala saya banyak hal yang harus dikerjakan. Wow, semua perubahan tadi cukup mengejutkan buat saya yang masih beradaptasi.

Hal yang Patut Disyukuri

Bagaimanapun, saya masih memilih ikut suami "berjuang" di tanah orang dan bukannya hidup nyaman bersama orang tua di Jakarta. Ini memang komitmen saya sejak tahu bahwa si calon suami berisiko dipindah-pindah tugaskan se-Indonesia. Enggak shanggup LDR, shay.

Dan ternyata, setelah dijalani, saya bersyukur hidup mandiri di Sumbawa. Despite the challenges, ada beberapa hal yang patut disyukuri dan membuat saya sanggup menjalani masa adaptasi.

Pertama, kantor suami dan kosan saya di Sumbawa deket banget. Jadi, suami bisa berangkat mepet jam masuk, pulang makan siang, dan pulang sore sehabis kerja. Coba di Jakarta, berangkat subuh pulang isya. It means a lot. Walaupun saya enggak punya kendaraan yang bisa saya bawa (dan di Sumbawa saat itu enggak ada Gojek atau Grab. Angkot dan taksipun nyaris enggak ada), saya bisa minta antar-jemput suami. Waktu suami untuk bersama saya dan anakpun lebih banyak.

Kedua, suami mau membantu urusan rumah dan anak dan memfasilitasi hal-hal yang mempermudah saya. He's the best. Di sini soal cucian ada laundry cuci-setrika antar-jemput cuma Rp 5.000/kg. Makanan Senin-Jumat pesan rantang untuk makan siang dan malam, jadi saya tinggal siapkan sarapan plus makanan Sabtu-Minggu. Jadi saya bisa fokus mengurus anak dan melakukan hal lain yang sebenarnya enggak banyak.

Adaptasi

Sekitar tiga bulan setelah pindahpun, akhirnya saya memberanikan diri menjadi freelance writer agar waktu yang saya punya bisa menghasilkan walau cuma recehan. Alhamdulillah masih sampai sekarang.

Tahun berlalu dan saya sudah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Memasak tidak lagi menjadi menakutkan.

Awalnya saya bingung saat ke pasar mau membeli apa, bahkan saya tidak tahu harga pasaran yang wajar. Sekarang saya catat apa yang mau saya masak, tulis bahan-bahan yang belum ada di dapur, lalu belanja sesuai daftar.

Dulu saya idealis: memasak makanan-makanan yang rumit, harus matching, dan tidak boleh diulang. Memasakpun lama, rasa dan tingkat kematangan apa adanya. Sekarang saya jauh lebih santai karena sudah terbiasa dan tahu celahnya, walau belum bisa dibilang mahir juga.

Kalau kira-kira tidak bisa selesai memasak tepat waktu, daripada bikin sekeluarga kelaperan, suami selalu berpesan jangan ragu minta tolong belikan makanan. Dia sudah tahu sejak awal saya tidak pandai memasak, maka requirement dia hanya yang penting kebutuhan makan sekeluarga terpenuhi. Masakan sederhana atau beli tak masalah. Walaupun deep inside dia agak picky soal makanan, tapi alhamdulillah dia mau aja tuh makan apa saja yang saya sediakan.

Coba kalau sampai sekarang saya masih tergantung sama Mama soal masakan. Saya ,sih, yakin enggak akan bisa masak. Dengan "terpaksa" terjun langsung di dapur, saya merasa skill memasak saya sekarang jauh lebih berkembang dibanding saya tiga tahun lalu.

Soal anak, tentu semakin besar, semakin ia mandiri. First relieve yang saya rasakan adalah saat dia berhasil menyapih di usia 2 tahun. Masya Allah, nikmat sekali rasanya merdeka! Tidurnya jadi lebih lelap sampai pagi, tidak lagi bangun setiap dua jam dan "menyandera" saya, membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa dan bahkan ikut ketiduran. Jam ia tidur jadi jam kerja saya dan quality time bersama suami. Makin besar lagi, makin ia bisa mengerjakan apa-apa sendiri.

But here comes the terrible two and three. Tantrum tantrum tantrum. Wah, awal-awal sih saya terpancing tantrum juga. Yelling, yes. Crying together with my son, yes. Thinking my life was a lot easier before him, yes. Blaming myself for being a bad mom, of course. Tapi alhamdulillah enggak sampai main fisik ke anak. 

Pelan-pelan, saya belajar cara menghadapi tantrum dengan benar thru classes, my psychologist cousin, and parenting-related posts in social media and websites. Sekarang, walaupun kadang masih kelepasan, saya merasa saya bisa lebih tenang saat menghadapi anak tantrum. Efeknya juga terlihat pada anak, tantrumnya jadi lebih cepat reda. PR saya sekarang adalah lebih telaten dalam membersamai anak sehari-hari dan manajemen waktu.

Plus Minus Tinggal di Sumbawa

In short, setelah tiga tahun di sana, saya merasa Sumbawa adalah tempat yang cukup nyaman untuk hidup sederhana. Tapi, buat saya yang dari kecil tinggal di kota besar, tempat ini cukup untuk singgah saja, bukan untuk selamanya.

Ini asyiknya tinggal di Sumbawa:

  • Macet-free, kecuali pas sapi lewat (welcome to village life!) atau ada pesta pernikahan di gedung (parkirnya sampai ke jalan)
  • Hidup lebih santuy
  • Muslim-friendly
  • Dekat ke mana-mana
  • Banyak pantai
Ini kurang asyiknya tinggal di Sumbawa:
  • Puanass
  • Enggak ada mal, bioskop, KFC dan semacamnya, tapi alhamdulillah minimarket dan supermarket masih ada
  • Enggak ada Gojek dan Grab (sekarang sudah ada Grab)
  • Mahal kalau pulang kampung ke Jakarta karena rute pesawat cuma ke Lombok. Jadi ke mana-mana harus transit di sana dulu.
  • Susah cari barang-barang. Kalau ada, seringkali harganya berlipat-lipat dibanding Jakarta/Jawa in general
Sebagai anak kota (tsailah) yang kadang-kadang kangen peradaban modern, kami sekeluarga beberapa bulan sekali ke Lombok (Jakarta dan Mojokerto juga waktu Lebaran, dinas, atau ada occasion tertentu). Ngemall, nonton, makan di restoran, nginep, jalan-jalan. It's our way to keep our sanity and balance. Sumbawa juga sebenarnya punya beberapa tempat tujuan rekreasi alam tapi jauh-jauh dan kami belum punya mobil, sedangkan ke Lombok kami biasa naik mobil travel dan Grab/Gojek untuk transportasi di Lombok.


And suddenly pandemy strikes. Kami jenuh sudah bertahun-tahun di Sumbawa dan terkurung di kosan saja, sementara mutasi suami yang seharusnya Oktober tahun lalu tertunda dan tertunda terus.

Mutasi di instansi suami saya merupakan hal yang pasti tapi dipenuhi ketidakpastian. Di posisi suami saya, tiga tahun biasanya sudah dikembalikan ke homebase. Tapi, lagi-lagi, kapan akan dimutasi dan ke mana akan dimutasi semua menjadi misteri Illahi.

Dengan pertimbangan "sebentar lagi mutasi", di akhir Oktober 2020, kami mudik ke Mojokerto, lalu ke Jakarta, kemudian suami kembali ke Sumbawa sendirian. Saya dan anak tinggal di rumah orang tua di Jakarta sampai mutasi datang. Suami beberapa bulan sekali pulang.

Beberapa barang di Sumbawa sudah kami masukkan ke kardus dan sebagian dibawa ke Jakarta. Kami mencicil packing supaya suami tak terlalu repot beberes saat waktunya mutasi.

Akhirnya...

Awalnya kami penuh harap akan mutasi. Banyak gosip beredar tentang pengumumannya: "minggu depan", "nanti malam", "diundur ke November", dan sebagainya. Kami selalu menunggu dengan deg-degan dan harap-harap cemas, lalu selalu berakhir kecewa. Lama-lama saya tak peduli lagi dengan omongan yang belum jelas dasarnya.

Akhirnya kami merasakan long-distance marriage (LDM) juga. Setiap saya mempertimbangkan untuk kembali ke Sumbawa, selalu ada pemikiran "tanggung... sebentar lagi mutasi" dan akhirnya tak jadi bawa koper. Apalagi di situasi seperti sekarang yang tak bebas bepergian. Terpaksa kami hanya menahan rindu yang terkadang sesak dan hanya bisa dialirkan lewat doa.

Sampai akhirnya semalam habis magrib, 1 Oktober 2021, ada 2 missed voice calls dari suami dan chat WA bertuliskan: "Bun, mutasi" dengan icon orang tertawa sambil menangis. Langsung saya telepon balik.

Alhamdulillah... 

Allah mengabulkan doa kami untuk mutasi ke Jakarta (rumah orang tua saya), Depok (rumah pribadi kami), dan sekitarnya. Tebak tepatnya di mana? Tidak ada yang menyangka akan di... Koja, Jakarta Utara. Iya, yang arah Priok itu. :))

Bagaimanapun, segala puji syukur bagi Allah. Walau jauh dari Cengkareng ataupun Depok, tetap bisa dijangkau dengan banyak opsi kendaraan dibanding di Sumbawa dulu. Yeayyy!

Sekarang, sementara suami di Sumbawa sedang disibukkan oleh pindahan, pikiran saya di Jakarta dipenuhi dengan perencanaan ke depan. Tentang sekolah anak, rencana anak kedua, rutinitas sehari-hari setelah suami tinggal di sini (karena harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam), food preparation, niat saya untuk serius di voice over, dan masih banyak lagi. Semuanya ini tertahan saat "keran" mutasi belum terbuka karena kami membutuhkan kepastian dulu. Now it's all clear, let's make plans!

Bye, Sumbawa!

Kalau saya masih di Sumbawa saat ini, saya rasa saya akan mewek mengingat banyak kenangan di sana. Tempat saya belajar banyak hal dan menjadi mandiri.

I will surely miss the beach which is 5-minutes-walk from my house...

Tempat wisata yang biaya masuknya murah-murah...

The santuy life...

And last but not least, the friendship I have with ibu-ibu DWP yang membuat hidup saya sebagai IRT lebih berwarna. Kangen banget arisan di kantor, main ke SGM, atau ngeliwet bergiliran di rumah :')

It's time to move on. Bismillah, semoga di tempat baru lebih baik dan berkah. Hi Jakarta, here we go again!

2 comments:

  1. penulis tapi ketikan gabisa dijaga. gila, malah mikirin ship sinting. gimana tuh, ignya jangan dilock dong.

    ReplyDelete

Pendapat Anda?